Posted by: frasa | December 3, 2007

Global Warming – UNFCCC

Pembicaraan tentang perubahan iklim membelah keyakinan para ilmuwan ke dalam dua kubu; pro dan kontra. Yang pro sepakat, bumi sedang menuju kehancuran dan kepunahan dalam seratus tahun, sedangkan kubu kontra yakin tak separah itu.  Akan tetapi, semua sepakat bahwa dunia perlu beraksi untuk mencegah ketidaknyamanan hidup di bumi. Untuk aksi, menyambut Konferensi Perubahan Iklim di Bali, 3-14 Desember 2007, pemerintah Indonesia menggalakkan penanaman serentak jutaan pohon. 

Pada tataran global, dunia mendesak negara-negara dengan hutan alam luas seperti Indonesia dan Brasil agar menjaga keutuhan hutannya. Hutan menjadi pengikat karbon dioksida (CO2), salah satu unsur utama pembentuk gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.

Untuk kehidupan, siklus fotosintesis tanaman menghasilkan oksigen. Oksigen dilepas daun sebagai hasil samping dari reaksi pembentukan energi yang dibutuhkan pohon untuk hidup. Meminjam model penghitungan ahli dari Belanda, ahli fisiologi tanaman yang juga peneliti bidang silvikultur Institut Pertanian Bogor (IPB) Supriyanto mengungkapkan, bahwa setiap orang dalam sehari membutuhkan lima meter kubik oksigen.  Atau, setara dengan oksigen yang dihasilkan setiap sepuluh meter kubik daun.

Setiap satu pohon dewasa diperkirakan menghasilkan 0,5 meter kubik daun. Dari hitungan itu, untuk menghasilkan 10 meter kubik oksigen, setidaknya dibutuhkan tegakkan 20 pohon dewasa. Hitungan ini berlaku bagi setiap orang di seluruh dunia, tak peduli asal negara, ras, atau gaya hidupnya. Faktanya, emisi yang membentuk GRK terkait erat dengan kebutuhan manusia yang rakus kenyamanan, termasuk untuk mendukung gaya hidup boros energi di negara maju.

Bahaya iklim
Laporan para ahli antar-negara untuk perubahan iklim (The International Panel on Climate Change/IPCC), seperti dikutip Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) menyebutkan, gas karbon dioksida (CO2) merupakan penyebab paling dominan terbentuknya GRK. Dan, salah satunya disumbang oleh sektor transportasi yang menggunakan bahan bakar fosil.

Kabar buruknya, konsentrasi CO2 di atmosfer naik dari masa pra-industri, dari sekitar 278 parts permillion (ppm) menjadi 379 ppm pada tahun 2005.  Akumulasi GRK hingga saat ini menyebabkan temperatur rata-rata global naik 0,74 derajat Celsius selama abad ke-20. Pemanasan lebih dirasakan di daratan daripada di lautan.

Sekalipun begitu, bongkahan-bongkahan es di Greenland dan Antartika terus meleleh dan berkontribusi atas kenaikan permukaan laut 0,44 milimeter (mm) per tahun antara tahun 1993-2003. Tanpa upaya keras komunitas global menekan laju pemanasan global, permukaan laut akan naik sekitar 1 meter pada tahun 2100.

Dengan asumsi kenaikan suhu rata-rata global melebihi 1,5 derajat Celcius hingga 2,5 derajat Celcius, maka sekitar 20-30 persen spesies flora dan fauna akan punah. Lebih jauh, kenaikan suhu akan berdampak buruk bagi ketersediaan makanan dan air yang berujung konflik sosial hingga perang dunia.

IPCC yang terdiri dari ribuan peneliti dari berbagai negara menyebutkan, tak ada solusi tunggal untuk masalah global itu. Satu-satunya jalan, komunitas global membangun kerjasama mengurangi pemanasan global dengan menerapkan hidup dan pembangunan ramah lingkungan.

Negara maju yang didukung pesatnya industri dan teknologi diminta serius menerapkan teknologi ramah lingkungan. Mereka juga diharapkan mentransfer teknologi ramah lingkungan ke negara-negara berkembang dan miskin dengan harga lebih murah.

Beberapa poin di atas, di antaranya akan menjadi fokus pembahasan para delegasi Konferensi Para Pihak (COP ke-13) UNFCCC di Bali, 3-14 Desember 2007. Puluhan ribu anggota delegasi dari setidaknya 191 negara akan hadir di sana.   

Menyambut acara sebesar itu, pemerintah menyambut dengan berbagai kegiatan seperti gerakan penanaman jutaan pohon. Departemen Kehutanan mengadakan kegiatan penanaman serentak 79 juta pohon. Sebelumnya, juga sudah diadakan kegiatan penanaman 10 juta pohon.

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar beberapa kali menyatakan, kesadaran baru global mengenai pentingnya menjaga hutan patut disambut serius pemerintah daerah untuk menjaga keutuhan hutan di wilayahnya. Di antaranya, aktif menanami lahan-lahan kosong untuk dihutankan. Alasannya, bukan hanya karena faktor ”teknis biologis” hutan sebagai penyerap CO2, tetapi juga terkait rencana pemerintah mengajukan usulan adanya insentif pendanaan global dari upaya mencegah deforestasi dan degradasi lahan hutan (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation/REDD). Ujung-ujungnya, adanya skema pendanaan global bagi hutan-hutan yang dijaga kelestariannya.

Untuk meloloskan usulan itu, Indonesia menggalang kerjasama dengan sepuluh negara pemilik hutan tropis untuk berjuang pada pertemuan di Bali. Adapun harga per ton CO2 yang akan ditawarkan berkisar 5-20 dollar AS. Angka itu masih disambut gugatan beberapa LSM.
Begitu pentingnya mencegah deforestasi, hingga Badan Pembangunan PBB (UNDP) memberi catatan khusus pada Synthesis Report Laporan Pembangunan Manusia (Human Development Report/HDR) 2007/2008 berjudul “Melawan Perubahan Iklim: Solidaritas Manusia dalam Dunia yang Terpecah”, yang pekan ini dipublikasikan di Brasil. Benang merahnya, pendorong peningkatan emisi adalah deforestasi.

Dituliskan, budidaya kelapa sawit dengan hasil sekitar 114 dollar AS per hektar hanya setara dua persen dari nilai jual karbon dengan harga ideal (20-30 dollar AS per ton), sebagaimana diungkapkan Skema Perdagangan Emisi Uni Eropa (EU ETS). Potensi serapan karbon per hektar hutan tropis yang belum terjamah diperkirakan 500 ton.

Pendapat yang lebih moderat, perlu diberikan apresiasi terhadap perusahaan berbahan baku kayu alam, seperti pengolah bubur kertas yang menerapkan model tebang-tanam dan panen bergilir di lahan konsesinya. Bahkan, ada rencana memasukkan pengelolaan hutan produksi ke dalam skema REDD.    

Seperti diungkapkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan (Dephut) Wahjudi Wardojo, salah satu pihak penyusun REDD, potensi hutan produksi layak diikutkan dalam skema pemberian insentif untuk merangsang keterlibatan pengusaha dalam menjaga kelestarian lingkungan.  

Terus pelihara
Di tengah berbagai tanggapan, gerakan penanaman pohon patut didukung. Sebaliknya, setiap upaya penebangan pohon sedapat mungkin patut dihindari karena setiap pohon yang dibakar atau membusuk memaparkan CO2.  Seperti halnya manusia, keberlangsungan hidup pohon pun butuh berbagai persyaratan. Pemilihan jenis bibit, kecocokan dengan lahan, cara penanaman, hingga pemeliharaan membutuhkan ketepatan.

Sayangnya, sejarah penanaman pohon skala nasional di Indonesia tetap memosisikan faktor pemeliharaan ke dalam urutan pertama permasalahan yang tak kunjung selesai. Hasil penelitian IPB (1998), seperti diungkapkan pemerhati kehutanan Hariadi Kartodihardjo, kepedulian kehidupan pohon merosot drastis pada tahun keempat.

Gerakan penanaman pohon kali ini pun dibayang-bayangi kekhawatiran yang sama karena lebih kental kesan seremonialnya. Meskipun begitu, menanam dan memelihara tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. 

Synthesis Report Badan Pembangunan PBB 2007/2008 menyebutkan, gaya hidup ramah lingkungan merupakan pilihan yang tak bisa ditawar di tengah laju pemanasan global yang terus terjadi. Ilustrasinya, andaikata setiap orang miskin di bumi –golongan pengemisi paling rendah dalam hidupnya– memiliki gaya hidup seperti di Amerika Serikat dan Kanada seperti sekarang ini, maka total diperlukan sembilan planet untuk menampung  polusi yang ditimbulkannya.

Sumber – Kompas.co.id (Gesit Ariyanto)

Posted by: frasa | November 29, 2007

Sebuah Komet Tumbuh Lebih Besar dari Matahari

KometJAKARTA, JUMAT – Sebuah komet yang menarik perhatian para pengamat perbintangan dalam beberapa minggu terakhir ini setelah meledak, telah tumbuh menjadi obyek yang berukuran lebih besar daripada Matahari.

Matahari adalah benda paling besar dan padat di tata surya yang partikel-partikelnya menjangkau semua planet. Namun ukuran itu tertandingi oleh Komet Holmes yang karena ledakannya, melepaskan begitu banyak debu dan gas sehingga membentuk gumpalan raksasa di angkasa. Partikel-partikel yang dilepaskan komet itu menjadi semacam selubungnya, atau disebut coma, yang kian membesar.
  
“Benda itu makin membesar dan kini telah menjadi obyek tunggal terbesar di tata surya,” ujar para astronom Universitas Hawaii. Diameter coma pada 9 November 2007 tercatat sebesar 1,4 juta kilometer, berdasarkan pengukuran Rachel Stevenson, Jan Kleyna dan Pedro Lacerda dari Institut Astronomi Universitas Hawaii. Sementara diameter Matahari kurang lebih 1,392 juta kilometer.

Dalam pengamatan menggunakan Teleskop Ruang Angkasa Hubble, tampak suatu struktur seperti dasi kupu-kupu di sekitar inti komet. Partikel-partikel sangat kecil yang menjadi coma di Komet Holmes tampak terang benderang karena terpapar sinar Matahari.

Di beberapa lokasi, Komet Holmes bisa diamati menggunakan mata telanjang pada petang hari di langit timur laut, dan akan tampak seperti bintang redup. “Kini ia akan terlihat seperti gumpalan awan,” kata Joe Rao, kolumnis Space.com. Rao menyarankan agar pengamat melihat komet itu akhir minggu ini, sebelum Bulan terbit. Setelahnya Komet Holmes akan semakin redup namun masih bisa terlihat sampai dua atau tiga minggu mendatang.

“Hingga beberapa minggu mendatang, selubung dan ekor komet akan menggelembung seiring dengan penyebaran debunya lalu semakin redup,” tulis Stevenson dan rekan-rekannya.

Pada hari Senin, 19 November, akan tercipta pemandangan langit yang menakjubkan. Menurut Spaceweather.com, komet akan lewat di depan bintang Mirfak atau Alpha Persei, sehingga tampak seolah menelannya.

Ledakan Misterius

Tak seorangpun tahu mengapa Holmes meledak, meski kejadian serupa pernah terjadi tahun 1892. Ledakan kali ini, yang dimulai sejak 24 Oktober lalu, menjadikan benda langit yang biasanya redup itu menjadi salah satu obyek paling terang di langit malam. Cahayanya lalu makin hilang ketika material ledakannya menyebar dengan kecepatan 0,5 km/detik.

Uniknya ledakan komet itu terjadi dari inti padat komet yang terbuat dari batu dan es dengan diamater hanya 3,6 kilometer saja. Namun komet itu berada sangat jauh dari Bumi, yakni sekitar 240 juta kilometer atau kurang lebih 1,6 kali jarak Bumi-Matahari, sehingga teleskop Hubble sekalipun kesulitan melihat inti komet.

Berdasar bentuk coma yang menyelubunginya, diperkirakan ada bagian komet yang terlepas dan terpecah menjadi partikel-partikel debu setelah berpisah dengan inti komet. Tetapi jarak yang jauh ditambah debu yang menutupinya, telah menghalangi Hubble untuk melihat pecahan tersebut.

Sumber: Space.com
Penulis: wsn

Posted by: frasa | November 29, 2007

Rosenborg 0 v 4 Chelsea


Akhirnya jagoan gua Lolos juga, nih cuplikan goal Rosenborg lawan Chelsea di babak penyisihan group Liga Champions… Lumayan buat yg ngga sempat Nonton

Trondheim – Chelsea secara meyakinkan melumat Rosenborg dengan empat gol tanpa balas di matchday kelima Liga Champions. Namun Didier Drogba yang mencetak dua gol di antaranya masih belum terlalu puas.

Selama 90 menit, The Blues mendominasi Rosenborg, Kamis (29/11/2007) dinihari WIB. Sudah bermain apik, empat gol yang dilesakkan Drogba, Alex dan Joe Cole dalam pertandingan tersebut juga membuat Chelsea memastikan lolos ke fase knock-out Liga Champions dengan predikat juara grup.

Namun demikian, dalam pertandingan itu Chelsea beberapa kali juga gagal memanfaatkan peluang. Sepakan Shaun Wright-Phillips hanya menghantam mistar sementara Michael Essien memiliki beberapa peluang yang tak bisa dituntaskan.

Hal itulah yang membuat Drogba merasa kalau raihan timnya dalam pertandingan itu belum terlalu maksimal, kendati striker Pantai Gading itu tetap bersyukur dengan tiga poin yang dikantungi. “Kami selalu bisa bertambah bagus dan saya pikir kami bisa mencetak lebih banyak gol. Namun kami senang dengan performa kami,” tegas Drogba dilansir Goal.

Drogba juga menebar ancaman kepada para rivalnya. “Kami adalah tim dengan pemain besar walau kami sempat tampil buruk dalam serangkaian pertandingan tapi kami sudah menunjukkan kalau kami mampu bangkit kembali. Kami harus terus menang dan meraih poin,” pungkas dia.

Posted by: frasa | November 28, 2007

Tari Barongan Malaysia vs Reog Ponorogo

Reog PonorogoMalaysia truly malingsia, begitula banyak pendapat Rakyat indonesia di web-blog ataupun di forum-forum internet.

Malaysia sebenarnya ingin menjual pariwisatanya ke manca negara dengan slogan “malaysia Truly Asia” tapi karena mereka ngga punya budaya yang bisa dijual.. jadila mereka mencatut dari budaya kita yang melimpah. alasanya mungkin karena kita masih serumpun (begitu katanya) dan Pemerintah kita yang sibuk ngurusi korupsi dan urusan pribadinya … jadi untuk urusan budaya pada dibiarkan dan tidak di daftarkan ke UNESCO.

Mulai dari batik, angklung , rasa sayange dan sekarang reog.
Malaysia memang nekat.. sudah jelas2 mereka belajar batik, angklung dari Indonesia dia malah berani mengakui sendiri.
Batik mungkin dia bisa bikin, begitu juga angklung (denger2 dia mendatangkan pengajar dari indonesia dan di bayar mahal) tapi kalau reog saya rasa susah.. karena unsur seni dan magik nya sangat kental… mungkin dia bisa bikin setelah belajar tapi untuk memainkanya butuh waktu lama.. atau memang mereka sudah belajar lama .. walahualam

 lagi-lagi masalah ekonomi.. budaya tergadai

Posted by: frasa | November 9, 2007

Global Warming – Efek Rumah Kaca

artikel bagus dari, http://kuntarini.multiply.com/journal/item/14 bagi yg belum tau musti baca nih🙂

“Green house effect? Greenhouse effect = efek rumah kaca = pemanasan bumi karena kebanyakan rumah kaca? Efeknya = berlobangnya ozon? Mobil pake listrik lbh ramah lingkungan daripada pake bensin?”

”Efek pemanasan global apa sih? Ozon berlobang kah? Lalu apa efek ozon berlobang?” dlsb….dlsb….dlsb…….

Waduh….kacau….kacau ……SALAH SEMUA!!! Untuk mobil listrik, ummmm….tergantung sumber listriknya dari mana…..
Come sit next to me, dear……..

Let me explain U a bit about environmental issue….

Semua ini bermula dari pemakaian fossil fuel (minyak bumi) sebagai sumber energi yg paling banyak digunakan : bensin, minyak tanah, gas, avtur (bahan bakar pesawat), pelumas oli, dlsb……Kenapa disebut fossil fuel? Karena bahan bakar ini adalah rangkaian hidrokarbon yang berasal dari sisa2 kehidupan organik beribu-ribu tahun yang lalu, seperti halnya fossil yang terkubur sejak ribuan tahun yang lalu.

Singkat kata, bahkan pembangkit listrik pun MOSTLY bersumber dari pemakaian minyak bumi, walaupun ada juga yang berasal dari sumber energi kinetis spt air, angin, dlsb, dan ada juga yg bersumber dari panas bumi.

Maka bisa dibilang fossil fuel adalah bahan bakar untuk segala aktivitas industri, termasuk beroperasinya pabrik. Hasil akhir pembakaran minyak bumi dan produk turunannya (minyak tanah, avtur, dst..dst…..) adalah emisi CO2 (Karbondioksida).

Karena seluruh dunia menggunakan minyak bumi sebagai sumber energinya, maka emisi karbondioksida menjadi terlalu banyak di angkasa. Karbondioksida yang terlalu banyak di angkasa ini membentuk semacam selimut yang melingkupi bumi, membuat sinar matahari yang masuk ke permukaan bumi sulit terpantulkan kembali keluar angkasa, akibatnya bumi jadi menghangat. Efek inilah yang disebut EFEK RUMAH KACA (GREENHOUSE EFFECT), mekanisme penghangatan yang sama seperti yang terjadi di Greenhouses (rumah kaca2) yg digunakan untuk perkebunan di negara2 sub tropika. Ketika musim dingin, tanaman2 yang ditanam didalam greenhouses tidak membeku, karena kaca menghalangi panas matahari yang masuk untuk memantul kembali keluar.

Jadi, Efek Rumah Kaca BUKAN disebabkan oleh rumah kaca-rumah kaca yang terlalu banyak, tapi DISEBABKAN oleh emisi karbon yang terlalu banyak di angkasa, sehingga menyulitkan panas memantul kembali ke luar angkasa.

Lalu apa akibat yang ditimbulkan dari Efek Rumah Kaca? Tentu saja GLOBAL WARMING, bumi menjadi semakin hangat, yang dalam bahasa indonesianya disebut sebagai PEMANASAN GLOBAL.

Lalu kenapa di cover DVD film dokumenter Inconvinent Truth tertulis sebagai Global WarNing dan bukan Global WarMing? Ah, itu maksudnya memberi efek bombastis……..Karena Global Warming yang terjadi saat ini sudah diambang kritis dan merupakan “warning” bagi kita semua, global warning…….Tapi, jangan dibolak-balik, terminologi lingkungan hidup terhadap proses bumi yang semakin memanas adalah GLOBAL WARMING, dan BUKAN Global Warning.

Nah, apa akibat dari Global Warming? Wah, banyaaak……..Es di kutub utara dan selatan mencair, juga gletser2 di negara2 sub tropis. Akibatnya tinggi air laut naik, pulau2 tenggelam dan air dari darat sulit mengalir ke laut, sehingga di darat terjadi banjir besar saat musim hujan. Suhu yang semakin menghangat menyebabkan daerah endemik makhluk2 parasit meluas, spt malaria, dlsb……

Suhu yang menghangat juga menyebabkan kekacauan cuaca. Kenapa? Hmmm…..krn pada prinsipnya, cuaca merupakan mekanisme bertiupnya massa udara bertekanan tinggi (bersuhu dingin) ke massa udara bertekanan rendah (bersuhu panas). Nah, karena suhu menghangat di semua tempat akibat Global Warming, jadi gimana doooong…? That’s why cuaca saat ini sulit diprediksi…….karena pergerakan massa udaranya kacau. So many typhoons & storms…..El Nino, George, dlsb…dlsb…..dlsb…. musim hujan pendek tapi gila2an, dan musim panas yang puaannjaaangg………(teman2 di BMG mungkin bisa membantu menjelaskan lebih mendetil proses terjadinya cuaca dan awan hujan?)

Efek global warming yg lebih lengkap tapi gampang dimengerti, ada disini : http://www.climatecrisis.net/thescience/

Nah, lalu apa hubungannya dengan Lubang Ozon? Jawabnya : Sedikit sekali hubungannya! Karbondioksida yg berlebih mengakibatkan pendinginan di stratosphere sehingga memicu percepatan lobangnya Ozon, tapi penyebab utama Ozon yang berlobang bukan disebabkan oleh Global Warming, tapi disebabkan pemakaian CFC (Chloro Fluoro Carbon), yang nama dagangnya disebut juga Freon. Chlor dari CFC ini menyerang Ozon dan membentuk Oksigen, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan bahkan bolong di kutub utara / selatan. Berlobangnya Ozon menyebabkan UV menerabas masuk atmosfer dengan lenggang-kangkung, menyebabkan terjadinya radiasi, yang mengakibatkan kanker!

Sekali lagi, penyebab utama ozon berlobang bukan oleh Global Warming!

Lalu, apakah mobil bertenaga listrik lebih ramah lingkungan dari bensin? Lha kan tadi udah diterangin…..listrik pun sumbernya adalah minyak bumi juga….Makin banyak listrik dipakai = makin banyak minyak bumi dibakar = makin panas bumi ini, Jeng! Itulah makanya kita kudu hemat pemakaian listrik…….
Tapi, saat ini ada mobil hybrid yg sumber energinya adalah tenaga matahari (pake sollar cell), atau biofuel, ditambah listrik dari energi kinetis hasil gerakan mobilnya. Kalo yang ini, toobbb bangeeeuutt….!!! Well recommended 1000%!!!

Lalu, kenapa Amerika gak mau meratifikasi Kyoto Protocol, konsesi negara2 seluruh dunia untuk pengaturan emisi karbon? Gini ya…….kontributor emisi karbon terbanyak adalah Amerika, lalu diikuti oleh China dan India. China dan India ekonominya sedang berkembang sehingga lagi giat2nya berproduksi, yang berarti mengkonsumsi minyak bumi sangat besar buat proses produksi/pabrikasinya. Sedangkan Amerika, karena negaranya sangat besar dan pola hidup yang biasa konsumtif, jika Amerika menandatangani pengurangan emisi karbon, maka berarti Amerika kudu mengurangi emisi karbonnya, yang berarti juga Amerika kudu mengurangi aktivitas produksinya sehingga ekonominya akan turun. Negara mana sih yang ekonominya mau turun?

Amerika nyap-nyap, katanya negara2 berkembang kayak Indonesia juga harusnya mengatur emisi karbonnya…..karena Indonesia itu adalah kontributor ketujuh emisi karbon, apalagi pada musim2 kemarau ketika hutan Indonesia selalu terbakar tiap tahun dan mengekspor abu ke Malaysia, Singapore, dan juga ke atmosfer bumi. Tapi kata negara2 berkembang termasuk Indonesia, kita ngelesnya bilang bahwa kita tuh gak pny teknologi produksi yang energy efficient, apalagi pake sumber bahan bakar baru……Kata negara2 berkembang, makanya transfer dong knowledge teknologi dari negara maju dengan murah, sukur2 mau ngasih gratisan…..!

Kata negara maju, enak aja loe….! Lha kalo gue kasih, terus apa dong daya saing gue? Mikir dooong……kalian nih negara berkembang mau enaknya sendiri males mikir, ngurus negara sendiri gak bisa, tukang korupsi, pemalas dan tukang eksploitasi sumber alamnya sampe nggak punya raw material lagi, illegal logging gila2an, eh minta2 teknologi tanpa mau susah2 mikir…….

{Lagian, negara2 berkembang kan memang tempat kami menjual teknologi2 yang sudah nyaris tidak terpakai lagi di negara maju? Kalian pikir kalian membeli teknologi tinggi, padahal di negara maju teknologi tsb sedang pelahan2 kami ganti yg lbh modern,ramah lingkungan krn menggunakan energi dari renewable resource dan pada akhirnya akan menguntungkan dlm jangka panjang (long term profit, kata orang…… ) …..Kalo kami kasih gratisan teknologi yg paling mutakhir, lalu siapa yang akan membeli teknologi yg hampir tidak terpakai lagi di negara kami ini?}

Kira2 begitulah yang berperang di benak negosiator2 negara maju dan negara2 berkembang dlm perundingan2 tingkat dunia lingkungan hidup…..

Tapi selama mereka berunding, kondisi pemanasan global makin kritis. Ini adalah masalah antara sustainable development yang baru kelihatan hasilnya secara signifikan dalam jangka panjang, dan masalah perut yang kudu di kasih makan dengan segera. Ini adalah masalah kita semua, baik itu masyarakat negara maju, maupun negara berkembang. Action must be done right away, nggak bisa menunggu2 hasil perundingan.

Brazil, salah satu produsen tebu terbesar di dunia, berhenti mengekspor gula. Mereka memakai tebunya utk bikin Ethanol sbg energi alternatif. Akibatnya beberapa tahun yang lalu harga gula melonjak gila2an. Indonesia dan negara2 lainnya memilih menggunakan biofuel sebagai energi alternatifnya. Salah satunya adalah program biodiesel, bahan bakar utk mesin diesel yang menggunakan bahan baku pohon jarak dan kelapa sawit (Crude Palm Oil). Jadi kalo naik Bis Transjakarta di koridor busway di Jakarta, jangan heran kalo di kaca belakang bis ada tulisan “BIODIESEL” gede-gede…….

Pada suatu saat ketika fossil fuel benar2 habis, kebutuhan biofuel akan meningkat gila2an, dan segala cara akan digunakan buat men-supply kebutuhan bahan baku biofuel. Hutan2 tropis akan ditebangi dan dibikin kebon kelapa sawit dan pohon jarak. Berbagai macam species tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tapi belum sempat diteliti, termasuk berbagai binatang2 eksotis akan musnah. Ekosistem terganggu.

Gimana caranya supaya kita bisa tetap bisa mensupply kebutuhan bahan baku biofuel tanpa membabat hutan? Gampang…..tanamlah pohon jarak di pagar rumah masing2 dan di seluruh tanah yang tidak produktif.

So, is the Global Warming condition now in Global Warning? Exactly!!!

Trus, kita mesti gimana? Banyak yang bisa kita lakukan….

   1. Hemat pake listrik & pake mobil
   2. Carpooling (nebengin temen saat naik mobil, biar gak byk kendaraan bersliweran).
   3. Biasakan hidup hemat…..Pola konsumsi yg tinggi akan memicu aktivitas produksi dan pabrikan yang tinggi, yang pada akhirnya adalah memicu konsumsi bahan bakar yang boros.
   4. Tanamlah pohon disetiap tempat! Our earth desperately needs Carbondioxide converter to Oxygen, and the trees are the only answer!!
   5. Jangan nebang pohon. Tebanglah saja batangnya yang rapuh, tapi jangan pohonnya….

Anyway, problem lingkungan hidup itu nggak cuma Global Warning, tp juga deforestation (pohon habis, siapa yang bisa memproduksi Oksigen?), water depletion (air tanah makin hari makin berkurang lho….padahal penduduk dunia makin banyak), natural resource depletion (termasuk musnahnya berbagai species tanaman obat di hutan2 kalimantan gara2 massive illegal logging, musnahnya hewan2 langka), dlsb….dlsb……

Nah, berikut hal2 yg bisa kita lakukan utk memelihara bumi kita satu2nya ini :

   1. Sebisa mungkin pake kertas bekas, terutama buat yg gak penting2.
   2. Pake plastik apa aja, jgn lgs dibuang. Cuci lagi buat dipake lagi, emang nape? Pelit? Nggak laaa…..Hemat dan mengurangi polusi. Plastik itu polutan paling jahat, nonbiodegradble…!
   3. Nggak buang sampah sembarangan.
   4. Jangan ikut2an beli offset-an binatang langka, sok melihara binatang langka, apalagi makan produk olahannya……
   5. dst….dst….dst…..

Older Posts »

Categories